INFO PALANGKA RAYA – Batu Antang atau sering juga disebut Batu Tingkes/Batu Pencobaan berada di puncak bukit situs Batu Suli. Batu Antang berarti lorong sempit. Sesuai dengan artinya, Batu Antang tersusun dari dua buah batu yang memang bercelah amat sempit.
Masyarakat adat setempat menganggap, jika mampu melewati celah sempit itu maka hidup si manusia tersebut akan sukses dan jauh dari masalah. Namun sebaliknya, jika tak yakin mampu melewatinya maka jangan coba-coba. Konon, hidup si manusia itu akan terus kesulitan, bahkan saat berusaha melaluinya dapat terimpit di celah batu.
Legenda Batu Antang yang berada di kawasan Batu Suli, Desa Upon Batu, Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah, pinggir Sungai Kahayan, tak lepas dari cerita tokoh sentralnya yang bernama Tamanggung Amai Rawang.
Diceritakan, pada suatu hari, saat semua orang di Desa Upon Batu atau Tumbang Manange sedang berada di ladang karena pada saat itu memang sedang musim panen, tanpa disangka datanglah segerombolan Kayau (pemburu kepala) dari suku Ot menyerang desa tersebut.
Saat serangan terjadi, yang ada hanyalah beberapa orang kaum perempuan yang sedang mencuci pakaian dipinggir sungai Kahayan. Salah satunya adalah Nyai Inai Rawang istri dari Toendan yang bergelar Tamanggung Amai Rawang.
Akibat serangan tersebut, banyak yang mati, terluka maupun melarikan diri.
Ketika Tamanggung Amai Rawang beserta adiknya Tewek yang bergelar Singa Puai pulang dari ladang, terkejutlah mereka melihat keadaan yang telah terjadi. Maka disuruhnyalah Singa Puai untuk memanggil kembali kakak mereka yang tertua yang bernama Ucek beserta semua orang yang sedang bekerja di ladang untuk mengadakan pembalasan.
Namun malang, ternyata gerombolan Kayau tersebut setelah menyerang kaum perempuan yang ada di Desa Upon Batu atau Tumbang Manange, mereka juga datang menyerang orang-orang yang sedang bekerja di ladang, sehingga banyak mati dan terluka parah.
Sebelum pulang, gerombolan Kayau tersebut sempat berpesan bahwa dalam tempo tujuh hari lagi mereka datang kembali. Bila warga Desa Upon Batu atau Tumbang Manange ingin selamat,
mereka harus menyerahkan harta kekayaan mereka dan rela dijadikan budak.
Namun bila mereka tidak mau menyerahkan harta benda, maka mereka akan dibunuh semuanya. Sebagai tanda ancaman tersebut, tertancaplah sebuah Sampalak, yaitu tanda bahwa daerah tersebut akan diserang atau di Kayau.

Kini tinggallah Tamanggung Amai Rawang beserta saudara-saudaranya dan segelintir warga desa yang tersisa, duduk termenung memikirkan bencana yang baru saja menimpa mereka. Ingin mengadakan pembalasan, apa daya kekuatan sudah tidak ada lagi.
Sehingga akhirnya muncullah ide untuk Manajah Antang, yaitu upacara memanggil burung Elang yang diyakini sebagai wujud penjelmaan dari para Antang Patahu, yaitu roh-roh leluhur yang bertugas sebagai dayang penunggu wilayah untuk meminta petunjuk dan pertolongan.
Tidak beberapa lama, upacara Manajah Antang pun dilakukan. Berdasarkan petunjuk yang diberikan oleh para Antang Patahu, bahwa Tamanggung Amai Rawang haruslah mendirikan kuta atau sebuah benteng di atas bukit batu yang terletak di tengah sungai, berseberangan dengan Desa Upon Batu atau Tumbang Manange.
Leave a comment