Apabila musuh datang dari arah matahari terbenam, maka mereka harus lari, sebab menandakan mereka akan kalah. Namun bila musuh datang dari arah matahari terbit, itu berarti mereka akan menang.
Sementara Tamanggung Amai Rawang tidak boleh mencabut senjata mandaunya untuk menghalau musuh. Ia cukup duduk diatas gong sambil menonton apa yang terjadi, sebab para Antang Patahulah yang akan berperang baginya.
Ternyata, pada hari yang telah ditentukan, datanglah gerombolan Kayau untuk menyerang kembali Desa Upon Batu atau Tumbang Manange. Mereka datang dari arah matahari terbit dengan tampang yang ganas.
Namun sebelum mereka dapat menyentuh Tamanggung Amai Rawang, mereka sudah berjatuhan karena diserang oleh para Antang Patahu. Gerombolan Kayau tersebut takluk dan bersedia menjadi pengikut atau budak dari Tamanggung Amai Rawang.
Desa Upon Batu akhirnya menjadi aman tentram kembali seperti dahulu kala berkat pertolongan para Antang Patahu yang adalah pengejawantahan dari pertolongan Tuhan Yang Maha Esa sebagai wujud jawaban dari upacara Tamanggung Amai Rawang Manajah Antang.
Antang Patahu merupakan penjelmaan dari Tuhan Yang Maha Kuasa yang menolong orang yang benar dan yang tidak berbuat jahat. Antang Patahu akan datang jika dipanggil dengan upacara Manajah Antang.
Tempat Temanggung Amai Rawang Manajah Antang ada sebuah batu yang kemudian disebut dengan “Batu Antang” atau juga disebut batu tingkes / batu pencobaan, di atas Puruk Amai Rawang.
Pada Batu Antang itu ada sebuah lubang kecil, konon cerita masyarakat desa, jika orang mampu melewatinya dan keluar ke sebelah sisinya, ia berumur panjang dan hidupnya beruntung.
Di atas puruk Amai Rawang itulah terdapat makam Temanggung Amai Rawang hingga saat ini.
Di sisi Puruk Amai Rawang ada “Batu Suli” (karena bentuknya mirip buah “Suli” (buah hutan) yang terletak di pinggir sungai Kahayan, sekarang ini menjadi sebuah Obyek Wisata, daerah Kecamatan Tewah, Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah. (*)
Leave a comment